//
you're reading...
Uncategorized

Sekolah Biasa Saja

Ada banyak ungkapan pendidikan yang hidup di antara kita: “Belajar dari Kenyataan”, “Belajar dari Pengalaman”, “Belajar dari Peristiwa”, “Belajar dari Lingkungannya Sendiri”, “Ilmu Ketemune Kanti Laku”- kita tahu bahwa kebanyakan kita justru bukan belajar dari lingkungan yang ada, malah belajar dari antah berantah, bukan belajar dari yang senyata-nyatanya ada, hampir kebanyakan mempelajari bayangan, mempelajari fatamorgana yang sangat susah dipahami apalagi dimiliki. Motto belajar seperti itu sudah lama dikenal di negeri kita ini. namun, penerapan prinsip yang sehat dan dahsyat ini dalam sistem persekolahan boleh dikata tidak pernah terjadi. Sekolah-sekolah kita mulai dari jenjang terendah sampai jenjang tertinggi masih mengikuti metode “Sekolah Dengar”. Prolog :DR. Sylvia Tiwon.

1517480_10202490290731693_7135023221404726227_n

Buku “Sekolah Biasa Saja” merupakan catatan Toto Raharjo yang didukung teman-teman fasilitator Sanggar Anak Alam (SALAM) dan sahabat. Buku “Sekolah Biasa Saja” merupakan dokumentasi konsep dan praktek belajar SALAM yang merupakan laboratorium pendidikan dasar. Prinsip-prinsip dan contoh praktek pendidikan dituangkan di buku ini dengan lugas. “Sekolah Biasa Saja” ingin mengajak para pendidik, calon pendidik, guru, para pemangku kebijakan di bidang pendidikan, para orang tua dan masyarakat untuk membuat sekolah menjadi biasa. Biasa dekat dengan manusia, dekat dengan masyarakat, dekat dengan kehidupan. Biasa untuk “Belajar dari Kenyataan”, “Belajar dari Pengalaman”, “Belajar dari Peristiwa”, “Belajar dari Lingkungannya Sendiri”, “Ilmu Ketemune Kanti Laku”-  belajar dari lingkungan yang ada-belajar dari kehidupan.  

“Sekolah Biasa Saja” menjadi upaya, menjadi gerakan bersama untuk meletakkan kembali pendidikan pada esensinya. SALAM sudah memulai dengan laku, dengan mendokumentasikan lakunya supaya diketahui semakin banyak orang. Memang belumlah sempurna apa yang diupayakan. Dengan bersama-sama mengupayakan, melibatkan semakin banyak orang, SALAM yakin bahwa meletakkan kembali pendidikan dasar pada esensinya bukanlah hal yang mustahil.

Buku “Sekolah Biasa Saja” sudah banyak dibicarakan, dibedah beberapakali di komunitas-komunitas, di Jogja, di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta dan di tempat lain. Buku “Sekolah Biasa Saja” sudah dibaca oleh banyak orang minimal yang sudah menenteng cetakan pertama sejumlah 1000 eks lebih. Gagasan untuk meletakkan kembali pendidikan dasar pada esensinya semoga menjangkau banyak orang dan dapat mematik serta menjadi gerakan bersama.

Kini kami mencetak ulang terbatas sejumlah 500 eks (cetakan ke 2) pada akhir bulan Agustus. Maaf terbatas. Kalau masih banyak yang membutuhkan semoga ke depan kami bisa mencetak lagi.

Bagi yang membutuhkan bisa pesan ke mas Yudhis HP/WA 085646909594

 

admin.

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

2 thoughts on “Sekolah Biasa Saja

  1. sistem pendidikan Salam sangat bagus,shg perlu disosialisakan dan dikembangkan ke berbagai daerah,saat ini sistem pendidikan spt ini yg diperlukan utk membarui sstm pnddkn lama yg tdk menghargai potensi anak

    Posted by eri | September 23, 2015, 2:06 am
  2. Sanggar anak alam ini berupa pendidikan non formal? Ataukah masuk dalam pendidikan formal? Lalu apakah penyelenggaraan pendidikan mengacu pada pendidikan nasional?

    Posted by Dita Kusuma | Februari 9, 2016, 2:17 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: