//
you're reading...
Arsip Media

Sekolah Kehidupan Sri Wahyaningsih Oleh Wheny Hari Muljati (Sinar Harapan, 8 Oktober 2008)

Yogyakarta – Demi menjawab permasalahan pendidikan di negeri ini, berbagai pihak berupaya menyelenggarakan sekolah alternatif. Sayangnya, sekolah alternatif umumnya mahal. Sri Wahyaningsih memberikan solusi inovatif dengan “sekolah alam”-nya. Bukan biaya murah atau konsep berbasis alam yang membuat sekolahnya berbeda, tapi di sekolah yang didirikannya itu, setiap siswa dilatih agar mampu menghadapi realitas hidup.
Menurut Sri Wahyaningsih (47), pendidikan harus menciptakan masyarakat yang kritis dan mampu menghadapi kenyataan hidup. Pendidikan harus mampu mengubah sesuatu, menghasilkan inovator dan penemu-penemu, serta memproduksi orang-orang berkarakter kuat, yang berani bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Berbekal idealisme itulah Sri Wahyaningsih merintis Sanggar Anak Alam (Salam). Salam adalah sebuah institusi pendidikan berbasis komunitas yang berprinsip bahwa pendidikan harus produktif ketimbang konsumtif, dan harus berangkat dari realitas kehidupan.
Salam mengajarkan kemandirian dan kemerdekaan berpikir sejak usia dini. Keputusan diserahkan di tangan anak, para guru atau fasilitator hanya bertugas mendampingi, mengarahkan, dan memfasilitasi.
“Aku mau nyetel (memutar CD-red) Lagu Puspa, boleh nggak?” tanya Dhony (4) kepada Ibu Lusi, fasilitator yang sedang menyiapkan pelajaran menonton film di kelasnya.
“Boleh, Dhony. Tapi di sekolah tidak bisa, karena adanya lagu anak-anak,” jawab Ibu Lusi. Dhony yang belum genap sebulan bergabung di TK Salam ini pun mengeluh. Ia mondar-mandir di kelas sementara teman-temannya asyik menonton. Sepuluh menit kemudian, saat film selesai, Dhony tampak mendekati Ibu Lusi. Ia pun antusias turut menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu Lusi tentang isi film.
“Saya cocok dengan cara belajar di sini, karena pendapat anak dihargai,” ujar Lina, orang tua Dhony kepada SH. “Di sekolah yang sebelumnya, Dhony dicap sebagai anak nakal karena suka mengganggu teman-temannya, makanya saya pindah ke sini. Guru di sini kelihatannya lebih paham soal anak,” lanjut Lina.

Tantangan
Sebagai pendiri Salam, Sri Wahyaningsih yang akrab dipanggil Wahya ini, ingin meluruskan kesan yang mungkin sering ditangkap orang tentang Salam. Salam tidak identik dengan sekolah alam dan sekolah berbiaya murah. Menurut Wahya, Salam memang memanfaatkan lingkungan alam sebagai salah satu media belajar, tapi secara prinsip, siswa Salam belajar dari realitas kehidupan secara lebih luas, tidak sekadar dari alam.
Soal biaya murah, Salam memang awalnya didirikan sekaligus untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari kalangan marginal. Tapi menurut Wahya, itu tidak berarti Salam hanya untuk kalangan bawah. Pada perkembangannya, Salam justru diminati kalangan lebih luas. “Seniman, guru, dosen, dan dokter ada yang memilih menyekolahkan anaknya di Salam karena mereka merasa sepaham dengan Salam, bahwa pendidikan tidak harus menjadi bulan-bulanan kurikulum dan globalisasi,” ujar Wahya.
Tantangan Salam menurut Wahya adalah keberadaan fasilitator yang sebagian berstatus mahasiswa. Bila mereka lulus, mereka bisa saja memilih bekerja di tempat lain yang secara finansial mungkin lebih menjanjikan.
Namun, berbeda dengan kekhawatiran Wahya, seorang fasilitator yang dihubungi SH justru mengaku menyukai bekerja di Salam kendati honornya tak seberapa.
“Saya sering mendapat tawaran bekerja di tempat lain, tapi saya telah jatuh cinta pada Salam. Jadi saya memilih tetap bekerja di sini,” ujar Dida yang mengajar Salam sejak tiga tahun lalu saat masih kuliah. Sarjana Psikologi Universitas Sanata Dharma ini mengaku, meski honor dari Salam relatif kecil, hal itu tidak menjadi masalah karena dia punya penghasilan lain. “Saya menjual hasil kerajinan tangan berupa rajutan di warung Salam,” ungkap Dida.

Biaya
Di kalangan orang tua murid, biaya sekolah di Salam termasuk murah. “Uang pangkal masuk TK Salam Rp 300.000, bisa dicicil, dan iuran bulanan Rp 25.000,” ujar seorang ibu di Salam.
Soal uang sekolah, Salam sangat fleksibel, besarnya tergantung kemampuan orang tua. Ada sekitar 10 orang tua murid yang bahkan tidak harus membayar, sementara orang tua murid yang lain bersedia membayar dalam jumlah lebih besar.
Soal dana operasional Salam, Wahya menyebutkan, sumbernya selain dari uang sekolah, juga dari koperasi dan penjualan hasil kebun.
Wahya berharap sekolahnya mendapatkan perhatian dan dukungan lebih nyata dari pemangku kepentingan setempat, antara lain soal perizinan. “Syukurlah, Dinas Pendidikan telah memberikan izin untuk pendirian Salam tingkat play group. Semoga perizinan untuk taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) nanti juga lancar,” harap Wahya.
“Saya dan Wahya berencana mempresentasikan Salam di depan Bupati Bantul Idham Samawi, supaya beliau memberikan perhatian lebih,” ujar Ong, Pengurus Pengembangan Budaya Bantul kepada SH, Selasa (7/10). Dalam pembicaraan melalui telepon, Ong juga mengaku kagum pada keberanian Wahya mendirikan Salam walau saat itu tidak ada bantuan dana. Menurut Ong, karena Salam penting perannya di bidang pendidikan, sayang bila tidak mendapat dukungan pemda, terutama dalam bentuk dana.

Pernah Frustrasi
Salam sendiri didirikan Wahya pertama kali di desa yang sangat terpencil, Lawen, Jawa Tengah pada dua puluh tahun lalu (1988). Pada lima tahun pertama, Wahya berhasil mengembangkan pendidikan anak usia dini, sekaligus memotivasi masyarakat Lawen menjadi masyarakat yang kritis dan memiliki semangat membangun desa. Berkat sepak terjangnya, pengagum Romo Mangunwijaya ini bahkan sempat meraih penghargaan Ashoka sebagai inovator sosial.
Namun, keberhasilan ini mendapat tantangan saat muncul seorang pengusaha sukses di Lawen yang memasang antena parabola. Karena antena itu, warga pun berbondong-bondong membeli televisi (TV). Akibatnya, Salam tidak lagi populer karena warga lebih suka menonton TV daripada berkumpul di Salam.
“Waktu itu, saya sempat frustrasi. Semua yang saya bangun susah payah seolah runtuh, dan saya tidak berdaya mengatasinya,” kenang Wahya.
Keadaan bertambah parah saat Wahya harus pindah ke Yogya (1996). Aktivitas Salam di Lawen pun mandek, warga makin konsumtif, dan iklan-iklan TV makin mempengaruhi gaya hidup mereka. Untunglah, seiring berjalannya waktu pengaruh TV di Lawen berangsur terkendali. Kini denyut Salam Lawen terasa lagi.
“Beberapa anak muda Lawen tahun lalu belajar pertanian organik ke Bogor dan ke Salam Yogya,” ujar Leno, salah satu alumni Salam Lawen kepada SH yang menghubunginya via telepon.
“Syukurlah, Ibu Wahya terus mendukung kami. Setidaknya tiga kali setahun beliau menyambangi kami,” ungkap Leno.n

                                                                                                                    

                                                               Copyright © Sinar Harapan 2008            

 http://search.freefind.com/find.html?n=0&mode=ALL&pid=r&id=4882828&query=sanggar+anak+alam

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

2 thoughts on “Sekolah Kehidupan Sri Wahyaningsih Oleh Wheny Hari Muljati (Sinar Harapan, 8 Oktober 2008)

  1. SALAM adalah sebuah anugerah bagi saya sebagai warga Yogya. Pada saat saya mengalami kegamangan dalam memilih pendidikan seperti apa yang sesuai dengan idealisme saya dalam membentuk karakter anak saya, ternyata Tuhan telah membawa Ibu Wahya untuk mendirikan SALAM di Nitiprayan.

    Saya merasa di SALAM anak sejak dini telah dididik untuk menjadi plural (inilah yang sulit saya temukan di tempat lain), sebuah “barang langka” yang saat ini sudah semakin tidak dikenal oleh siapapun, baik anak, sekolah, maupun masyarakat. Tren masyarakat kita saat ini dalam pengamatan saya adalah semua hal “harus” sewarna, berwarna adalah salah dan tidak pada tempatnya. Termasuk anak-anak dari kecil sudah dijejali dengan pemahaman yang harus seragam, belum lagi kurikulum di sekolah yang banyak melanggar hak anak untuk tumbuh dan berkembang sebagai anak.

    Di SALAM, anak dididik dikenalkan pada Tuhan dengan sangat jujur, dengan bahasa yang sangat dipahami anak, tak terkotak-kotak, dan tak terbebani dengan hal-hal yang tak terjangkau.

    Saya senang sekali anak saya sangat bangga menjadi murid di TA SALAM, ini berarti dia mendapat sesuatu yang sangat berharga dan sesuai dengan keinginannya sebenarnya. “Kemewahan” inilah yang kelak akan dia bawa di kemudian hari dan membentuknya menjadi pribadi yang humanis, plural, peka terhadap lingkungan, dan cinta damai. Itulah harapan saya sebagai ibu. Terimakasih Bu Wahya, Ibu telah memberi pilihan yang sangat sesuai setidaknya bagi saya.

    Salam,
    Endah Palupi

    Posted by Endah Palupi | Desember 19, 2008, 9:18 am
  2. Maju Terus Salam
    Never Give Up

    Posted by dinastiar | Desember 25, 2008, 2:50 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: