//
you're reading...
Arsip Media

PENDAPAT GURU : Taman Pintar dan Edukasi Kuliner ===> Oleh : Nunung Deni Puspitasari (Harian Kedaulatan Rakyat, 03/10/08)

PENDAPAT GURU : Taman Pintar dan Edukasi Kuliner ===> Oleh : Nunung Deni Puspitasari
03/10/2008 09:58:01 KEBERADAAN Taman Pintar di Yogyakarta sungguh sangat menyumbang terhadap alternatif media pendidikan publik khususnya bagi anak-anak. Ada banyak aspek pendidikan yang ditawarkan di sana, misalnya saja fasilitas yang ada di gedung oval yang menampung pengetahuan tentang dunia luar angkasa, sejarah manusia purba, dan penemuan karya ilmiah remaja. Di samping itu di area pertamanannya sendiri ada banyak fasilitas pengetahuan yang bisa dinikmati anak sembari bermain, misalnya saja pengetahuan tentang angka, cara menghitung, pemahaman kehidupan alam desa dengan instrumen pelengkap berupa patung sapi, sawah, rumah tradisional Jawa dan sebagainya.
Namun, bagi saya, fasilitas yang relatif sudah cukup bagus disediakan di sepanjang area Taman Pintar tersebut ternyata justru mengundang kontradiksi dengan bertaburannya sejumlah kuliner cepat saji (fast food). Sebenarnya, adanya ketersediaan kuliner yang notabene cerminan produk impor tersebut tidak menjadi persoalan, tetapi ketika keberadaan kuliner tersebut pada kenyataannya mendominasi area di sepanjang Taman Pintar, maka menurut saya cukup mengganggu juga. Tentu saja, bukan mengganggu dalam konteks boleh tidaknya menggelar dagangan di area tersebut karena bagi saya tetap boleh-boleh saja, tetapi konteks mengganggu yang saya maksudkan adalah dalam perspektif edukasi kuliner.
Menurut saya, akan lebih baik jika keberadaan sejumlah produk kuliner yang notabene impor tersebut diimbangi dengan keberadaan produk kuliner dalam negeri, khususnya yang bernuansa tradisi lokal atau notabene jajan pasar. Bukan apa-apa, jika produk kuliner yang dijual di sepanjang area Taman Pintar tersebut juga menyediakan produk lokal berupa kuliner tradisi berupa jajan pasar, misalnya, pastilah akan lebih memberi makna dan nilai lebih bagi alternatif mengedepankan komitmen pendidikan publik yang mencerdaskan. Toh kita tahu, perspektif pembangunan mental dan pembangunan karakter anak tidak hanya bisa ditempuh lewat kerangka teori dan aplikasi pengetahuan perihal dunia angkasa, pedesaan, mainan dan yang lain. Dalam aspek kerangka pengenalan kuliner tradisi lokal pun menyimpan bara komitmen nasionalisme yang besar dan begitu penting sebagai penopang pembangunan mental dan pembangunan karakter bagi anak. Dengan kata lain, melalui aspek pengenalan keberagaman kuliner tradisi lokal sebetulnya membuka ruang edukasi alternatif yang relatif bagus bagi anak.
Pengalaman saya sebagai guru SD di sekolah alternatif Salam Nitiprayan Bantul Yogyakarta yang didirikan tokoh LSM Sri Wahyaningsih menunjukkan bahwa jika anak-anak dibiasakan untuk mengonsumsi makanan tradisi lokal maka mereka bisa belajar tentang asal muasal makanan, proses makanan itu dibuat, juga lebih mengenal dan mencintai produk kuliner adiluhung yang dibikin oleh nenek moyang. Artinya, sebenarnya, persoalan kecintaan dan pelestarian terhadap makanan tradisi lokal pun bisa dibangun semenjak usia dini.
Oleh karena itulah saya kira saat ini adalah momentum yang tepat untuk melakukan  refleksi bersama atas keberadaan Taman Pintar yang notabene memang milik publik. Apakah kelak kebijakannya akan mengalami perubahan dengan pertimbangan pentingnya mengedepankan aspek edukasi kuliner lokal? Toh dengan diadakannya gelaran produk kuliner lokal juga bernilai mendukung upaya antisipasi terhadap produk kuliner yang mengandung unsur kimia tertentu dan terbukti membahayakan kesehatan tubuh, bukan?
Sumangga pripun prayoganipun….q-o
(Nunung Deni Puspitasari, Guru SD di sekolah alternatif Salam Nitiprayan Bantul Yogyakarta)

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=179622&actmenu=43

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: