//
you're reading...
Arsip Media

KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR LESEHAN ; Siswa Bebas Tak Berseragam (Harian Kedaulatan Rakyat 29/08/2008 07:29:02)

KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR LESEHAN ; Siswa Bebas Tak Berseragam
29/08/2008 07:29:02 BERSEKOLAH tanpa seragam kedengarannya memang aneh. Tapi di Sanggar Anak Alam (Salam) pemandangan seperti ini sudah biasa. Sebanyak 19 siswa kelas 1 SD itu hanya mengenakan baju seadanya ketika mengikuti proses belajar mengajar. Tak hanya itu, mereka juga tidak belajar dalam ruang kelas seperti di sekolah formal pada umumnya. Siswa belajar di sebuah bangunan yang terbuat dari bambu. Tak ada meja kursi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilaksanakan secara lesehan.
Salam yang beralamat di Nitiprayan RT 04 Ngestiharjo Kasihan Bantul mencoba menawarkan konsep baru dalam dunia pendidikan. Sekolah berbasis komunitas yang didirikan Tahun 2000 ini juga memiliki cara tersendiri dalam melakukan transfer ilmu kepada siswa-siswanya.
”Kita belajar dari keseharian. Apa yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi objek pembelajaran. Apapun yang ada di sini dapat dipakai sebagai media belajar,” kata Pimpinan Salam, Sri Wahyaningsih.
Ternyata, belajar dari alam menjadi sangat menyenangkan bagi anak-anak. Mereka bebas mengekspresikan diri. Setiap pagi, sebelum masuk kelas siswa dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok ada yang bertugas di kebun, memberi makan hewan ternak dan kelompok lainnya membersihkan ruang kelas. Setelah itu, baru pelajaran dimulai hingga pukul 13.00. Setiap harinya siswa juga mendapat makan siang di sekolah.
Dalam belajar, anak dibiarkan menemukan ilmu sendiri. Siswa bebas berekspresi. ”Sebagai PR, kumpulkan 5 jenis daun kemudian ditempel di kertas,” kata salah satu fasilitator ketika mengajarkan topik bahasan herbarium kepada anak-anak di suatu siang. Siswa yang duduk melingkar di sekitarnya pun langsung menyambutnya dengan sejumlah pertanyaan. Begitulah gaya mengajar di Salam. Guru juga hanya bertindak selaku fasilitator.
”Dalam belajar kami mengutamakan proses. Tahapannya mulai dari pengenalan, pendalaman dan penerapan,” tandasnya. Hamparan lahan pertanian yang ada di lingkungan sekitar menjadi laboratorium tempat siswa belajar. Misalnya anak-anak langsung diajak ke kebun untuk mengamati tanaman. Pada pelajaran IPS mereka juga bergaul dengan masyarakat secara langsung. Kecuali itu juga diajarkan ilmu terapan seperti bagaimana menghemat listrik, mengolah sampah dan lain-lain.
Salam memang masih tergolong baru. Saat ini untuk SD baru dibuka kelas 1 saja dengan jumlah murid sebanyak 19 orang. Kecuali itu juga dibuka play group dan Taman Anak (TA). Total siswanya kurang lebih 100 orang.
Sri Wahyaningsih menambahkan, melalui model pendidikan berbasis komunitas pihaknya ingin menghilangkan konsep penyeragaman dalam dunia pendidikan. ”Pendidikan yang dikembangkan sekarang cenderung mencetak boneka. Padahal masing-masing orang itu beda,” jelasnya.
Salam juga tidak mengkotak-kotakkan pelajaran seperti di sekolah umum di mana ada pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan lain-lain. Namun demikian, bukan berarti siswa tidak mendapat ilmu-ilmu tersebut. ”Mereka tetap mendapatkan ilmu biologi, kimia, IPS dan lain-lain tanpa kita harus mengatakan bahwa sekarang adalah saatnya jam untuk mata pelajaran biologi,” ungkap Sri Wahyaningsih.
Dalam proses belajar mengajar, Salam sengaja membuat kurikulum sendiri. ”Hanya sedikit melirik kurikulum yang diterapkan di sekolah umum,” ujarnya. Namun demikian, jika peserta didik ingin melanjutkan ke sekolah formal, menurut Sri Wahyaningsih, tidak masalah karena bisa mengikuti ujian persamaan. Jadi setelah lulus SD mereka tetap bisa melanjutkan ke SMP umum.
Meski tidak pernah melakukan promosi, Salam yang semula hanya melakukan pendampingan terhadap remaja ternyata dalam perkembangannya cukup diminati masyarakat. Awalnya hanya membuka play group dan TA, karena banyak yang menginginkan mulai dibuka kelas 1 SD. Peserta didik juga berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari anak dosen, seniman, pengusaha, pemulung, pengamen serta anak autis dan down sindrom.  (Dwi Astuti)-b

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=175449&actmenu=35

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

2 thoughts on “KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR LESEHAN ; Siswa Bebas Tak Berseragam (Harian Kedaulatan Rakyat 29/08/2008 07:29:02)

  1. mengenai biayanya pendidikan di SALAM berapa mas / mbak, boleh dinformasikan dari tingkat taa / playgroup / tk / sd, beserta kursus2 yang ada di SALAM ga ya, maklum mas anak kami itu ABAKURA … ada bakat kurang ragat ….. mohon diinformasikan ya, so bisa itung2an dulu … matur suwun

    Posted by any | Maret 6, 2009, 9:19 pm
  2. saya juga ingin bertanya mngenai hal serupa, mngingat anak saya sekarang sudah berumur 4 tahun, dan kami tertarik untuk mengikutkannya di SALAM….
    trims sblumnya. tlg di bals di email saya ya?

    Posted by hernand | April 25, 2009, 7:48 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: