//
you're reading...
Uncategorized

Pendidikan Alternatif yang Membebaskan

p1120843.jpg Pendidikan macam apa yang dianggap membebaskan? Sanggar Anak Alam sebagai penyelenggara Kelompok Belajar dan Taman Anak yang model pembelajarannya bertumpu pada anak, memberi kemerdekaan anak untuk mengikuti belajar di luar atau di dalam kelas, dan guru lebih berperan sebagai fasilitator selalu mendapat pertanyaan baik dari orang tua murid maupun tamu-tamu yang berkunjung. Bagaimana dampak dari model pembebasan ini pada anak anak yang nantinya melanjutkan ke sekolah umum (kalau nanti sudah tidak di SALAM lagi). Apakah mereka tidak menemukan kesulitan ?

 

Jawaban saya bisa tidak bisa ya. Mengapa? tergantung anak-anak akan ketemu dengan siapa. Apabila anak-anak ketemu dengan orang-orang yang paham dunia anak mereka akan enjoy saja, tapi kalau anak-anak ketemu dengan orang yang tidak paham dunia anak ya akan menjadi masalah. Namun anak-anak yang sejak dini telah mendapatkan kebebasan mereka akan lebih mudah menghadapi masalah. Mereka mampu membawa diri karena mempunyai keberanian dan dapat ambil keputusan untuk dirinya. Anak-anak yang kelihatan “manis”penurut, patuh belum tentu mencerminkan anak yang pandai dan penuh perhatian. Boleh jadi anak-anak tersebut adalah anak-anak yang tertekan, memendam kebencian, kejenuhan yang suatu saat nanti akan meledak.

 

Orangtua perlu memahami perkembangan anak sesuai dengan usianya. Anak-anak usia 0-8 th (windu pertama) menurut pakar pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro adalah masa WIROGO masa yang banyak gerak, rasa ingin tahunya besar dan selalu ingin mencoba sesuatu. Psikolog modern pun membenarkan hal itu. Dan pengalaman kami di lapangan memang demikianlah anak-anak usia dini, mereka sangat energik, ceria dan banyak gerak. Bagaimana anak-anak seperti itu harus duduk manis di kelas dengan balutan baju yang tidak nyaman untuk bermain.T entu ini merupakan “siksaan” yang berat bagi anak, namun apa daya anak-anak dibawah kekuasaan orang dewasa yang tidak memahami dunianya.

Memasuki windu ke dua yaitu usia 9-16 th anak-anak sudah memasuki masa WIROGO WIROMO pada tahap ini anak-anak sudah dapat mengatur dirinya, sudah sedikit paham tentang mengatur waktu. Kemampuan berkonsentrasi sudah lebih lama.

Pada windu ketiga usia 17 -24 th memasuki masa WIROMO  anak sudah dianggap dewasa dan pada tahapan ini anak-anak sudah mampu mengenal potensinya sendiri, dapat mengatur waktu dan dapat menentukan sikap.

 Dengan memahami perkembangan anak, sesuai dengan usianya diharapkan pendidikan dapat berjalan efektif. Tidak perlu khawatir memberi ruang pembebasan pada anak dengan porsi yang sesuai. Ibaratnya memberi ASI kepada bayi usia 0-2 th manfaatnya akan terasa pada perkembangan anak, tetapi memberi ASI kepada anak yang sudah besar tentu tidak efektif karena kebutuhan mereka sudah berbeda. 

Apabila tahapan ini dilalui dengan baik saya percaya, perkelahian, kekacauan yang terjadi pada anak-anak remaja dapat dihindari. Ketakutan, ketaatan yang terpaksa, tekanan-tekanan pada anak-anak usia dini akan terakumulasi dan menunggu waktu untuk meledak. Penerapan disiplin yang tinggi pada anak-anak usia dini hanya akan melahirkan anak-anak yang tumbuh menjadi robot-robot. Perkembangan jiwa, kreativitas dan pengembangan dirinya akan terganggu.

 

Kebebasan yang diciptakan dengan ketulusan dan kasih sayang akan menjadi roh yang memberi kekuatan, peneguhan diri pada anak-anak.

 

Praktek kami di lapangan membuktikan ketika anak-anak Kelompok Bermain usia 2 -3 th dalam belajarnya masih banyak yang nempel orang tuanya  pada usia 3,1 – 4 th anak-anak sudah banyak yang mulai dapat ditinggal dan ketika sudah memasuki usia Taman Anak mereka sudah dapat ambil keputusan untuk hanya diantar dan dijemput bila sekolah sudah usai. Kesadaran itu tumbuh dengan sendirinya tanpa paksaan.Anak-anakpun mampu mengambil keputusan sendiri.Demikian juga untuk kebutuhan belajar membaca dan menulis pada anak-anak di Taman Anak, mereka meminta sendiri. Sehingga proses belajar dapat berjalan lancar sekalipun kadang-kadang masih butuh dorongan untuk berkonsentrasi agak lama. Untuk melakukan sesuatu sampai tuntas anak-anak kadang masih agak susah kemauannya masih meletup-letup, pingin ini pingin itu tapi sudah mulai terarah disinilah peran para fasilitator: Tut Wuri Handayani.

 

Semoga uraian dan pengalaman kami di lapangan cukup menjawab pertanyaan banyak orang yang selalu khawatir menerapkan pendidikan yang membebaskan. Selamat mencoba, anak-anak pasti akan bahagia dan kebahagiaan ini mahal harganya. Kalau kita dapat menciptakan sendiri kenapa tidak. ©           Sri Wahyaningsih*SALAM JOGJA

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

7 thoughts on “Pendidikan Alternatif yang Membebaskan

  1. thanks infonya,saya jadi lebih tahu dan paham akan dunia anak yang sesungguhnya.saya ibu dg satu putri usia 2th(khansa kamila)

    Posted by maharani | Maret 23, 2008, 6:52 am
  2. saya ingin sekali membuka sekolah berbasis alam seperti sekolah SALAM di jogya,tapi saya bingung bagaimana memulainya.mungkin ada saran atau ide untuk menentukan langkah awa.niat saya yang utama ingin membantu orang disekitar rumah saya yang kesulitan menyekolahkan anak2 mereka di sekolah tk umum,karena biayanya yang mahal.saya tunggu jawabannya dan terima kasih.btw,saya tinggal di kabupaten Malang JATIM

    Posted by maharani | Maret 23, 2008, 6:56 am
  3. Mbak Maharani,
    Awalnya SALAM dulu juga berangkat dari kegiatan rumah. Dari pengamatan di Lawen (Banjarnegara) dan kemudian di nitiprayan, bahwa anak-anak membutuhkan ruang untuk berekspresi. Semua kegiatan yang dilakukan SALAM selalu melibatkan komunitas, kami mengistilahkannya pendidikan berbasis komunitas. soal biaya bisa disiasati dengan berbagai cara….karena alam dan lingkungan adalah media belajaryang tak akan ada habisnya…
    SALAM

    Posted by salamjogja | Maret 26, 2008, 3:51 pm
  4. Maju terus pendidikan alternatif di Indonesia, sukses untuk SALAM!. Salam untuk Ibu Wahya, pernah ketemu di FIB UGM.

    Posted by jamal | Maret 27, 2008, 3:43 am
  5. Terima Kasih SALAM
    telah memberi informasi yang sangat berguna
    InsyaAlllah akan segera saya praktekan pada anak2 saya ilmunya

    Posted by dinastiar | Desember 28, 2008, 1:29 pm
  6. Aku boleh minta model-model pembelajaran lingkungan untuk anak usia dini. kalau boleh bisa kirim lewat emal. terima kasih

    Posted by lukni | Januari 11, 2009, 9:30 am
  7. Wah bagus sekali modelnya boleh kasih apalagi dengan gambar anak-anak

    Cara Menulis
    Surat Penawaran

    Posted by aaaaa | Juni 8, 2009, 10:51 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: