//
you're reading...
Arsip Media

Solidaritas “Kampung Seni” Nitiprayan

 KOMPAS, Selasa, 06 Juni 2006

Oleh C Anto Saptowalyono

Nitiprayan, secara fisik, dusun di tengah persawahan Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, ini tak ubahnya dengan dusun- dusun lainnya. Namun, dusun yang terletak di sisi barat laut Bantul ini memiliki marka pembeda yang khas: keberadaan komunitas seniman. Saat gempa mengentak Bantul dan sekitarnya beberapa waktu lalu, warga-termasuk seniman-pun bergerak. Mencerap penuturan Totok Raharjo, warga setempat, gerakan warga dan seniman di Nitiprayan bercirikan pemanfaatan jaringan yang berada di berbagai tempat.

Melalui pesan pendek telepon seluler, kolega-kolega seniman di luar daerah pun mengetahui apa yang terjadi di Bantul, Sabtu pagi, 27 Mei 2006 lalu. Di dalam Dusun Nitiprayan, para seniman yang merupakan bagian dari masyarakat pun menyiapkan program spontan di masa darurat. Dapur umum didirikan. Nasi bungkus pun segera diedarkan ke desa-desa sekitar Bantul di sisi selatan, yang parah kerusakannya dan banyak korbannya akibat dilanda gempa. Sanggar Anak Alam menjadi salah satu lokasi dapur umum di Nitiprayan yang selama lima hari pertama pascagempa mengepulkan asap dari tungkunya untuk membuat nasi bungkus bagi para pengungsi korban gempa. Nitiprayan pun merupakan dusun yang menjadi tempat mengungsi bagi saudara-saudara mereka dari Bantul sisi selatan. “Ada sanak saudara yang rumahnya rusak, mereka pun kami terima di rumah-rumah penduduk,” kata Totok.

Spontanitas warga saat gempa kemarin, lanjut Totok, menunjukkan masih tingginya sensitivitas warga dusun setempat terhadap penderitaan sesama. Dukungan dan empati jelas dibutuhkan pengungsi dan korban gempa. Akan halnya pasokan logistik, itu semua mengalir ke dapur umum di Nitiprayan setelah sebelumnya dikumpulkan oleh warga, termasuk para senimannya. Sebut misalnya sumbangan sayur dari warga petani di Boyolali yang tersalur kepada korban lewat relawan di Nitiprayan.

Jaringan seniman Nitiprayan yang berada di luar kota, semisal Jakarta, pun mengirimkan logistik untuk disalurkan ke dapur tersebut. “Komunitas Musik Jakarta-kolega kami-saat ini tengah merancang konser amal bagi korban gempa, dikoordinasi Oni Krisherwinto, yang juga konduktor Magenta Orchestra di Jakarta,” kata Oni Soewasono, alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jurusan Musik ini, di Nitiprayan, Senin (5/6). Jaringan Terbetik kabar, kata Oni, jaringan musisi di Inggris yang akrab dengan seniman setempat juga tengah menyiapkan semacam concert charity dengan melibatkan London Philharmonic Orchestra, sebagai bentuk empati bagi korban gempa Yogyakarta. Di Kampung Seni Nitiprayan, Indonesian Society for Social Transformation (Insist) juga menggalang tim relawan kemanusiaan yang beranggotakan lima lembaga.

Lembaga tersebut meliputi Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan Surakarta yang melibatkan 35 relawan di Klaten dan 15 relawan di Bantul. Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia Yogyakarta menyertakan tujuh relawannya di tim ini. Komunitas Sanggar Anak Alam menggerakkan 20 orang relawan, sementara Lembaga Studi Kesetaraan Aksi dan Refleksi Salatiga mengirim 15 relawan. Adapun Perhimpunan Mitra Tani Yogyakarta mengirimkan 20 relawan dalam tim kemanusiaan tersebut. “Sasaran pendampingan dan bantuan kami, antara lain meliputi beberapa desa di Kecamatan Bambanglipuro dan Imogiri di Bantul, serta Kecamatan Gantiwarno dan Prambanan di Klaten,” kata Koordinator Sanggar Anak Alam Sri Wahyaningsih. Sasaran ditujukan terutama terhadap desa-desa yang mengalami tingkat kerusakan akibat gempa yang tergolong parah. Kalau mulai hari pertama hingga kelima mereka masih menyumbang dalam bentuk nasi bungkus, maka pada hari berikutnya dukungan kepada warga lebih diarahkan kepada pendorongan inisiatif warga untuk bangkit dan menata kehidupan pascagempa.

Meski menimbang keterbatasan kemampuan, tim relawan tadi tidak mampu membantu banyak desa, namun mereka bertekad all-out dalam mendampingi warga yang menjadi korban. Penanganan warga pun dilakukan lewat berbagai aspek, yang akan terlayani oleh kelima lembaga yang masing-masing memiliki karakteristik fokus program tersebut. Pola “keroyokan” yang dijabarkan melalui program menyeluruh masing- masing lembaga tadi, diharapkan akan meniadakan penanganan korban gempa yang sektoral. “Apalagi masalah yang dihadapi korban gempa sangat kompleks.

Mulai dari hilangnya modal, berkurangnya produktivitas akibat terhambatnya kerja, dan terganggunya kegiatan belajar anak-anak,” tutur Sri. Khusus mengenai problem ini, Yayasan Sanggar Alam sesuai dengan kegiatannya selama ini akan menitikberatkan bidang pendampingan bagi anak-anak. Seni merupakan salah satu media pembelajaran yang diharapkan akan memperluas wawasan anak, di samping pelajaran yang didapat di bangku sekolah. Kegiatan seni, seperti teater, dinilai cukup positif untuk meningkatkan kadar kepercayaan diri anak. Apalagi, pascagempa beberapa waktu lalu acap terberitakan trauma yang membayangi anak- anak. Jalur gempa Sebagai gambaran, Dusun Nitiprayan yang berada di sektor barat laut Bantul ini relatif tidak mengalami banyak kerusakan dibanding kawasan Bantul sisi selatan. Memang ada satu dua rumah yang retak, atau dinding roboh, namun jumlahnya tidak semasif di wilayah-wilayah yang dilalui “jalur gempa” yang terentang diagonal dari Sanden ke arah timur laut hingga Klaten. Sawah-sawah di Desa Ngestiharjo, termasuk yang berada di sekitar Nitiprayan, tetap tumbuh subur menghijau.

Warung-warung di dusun dengan jajanan dan jualan yang dibutuhkan warga pun tetap buka. Dan, seperti dituturkan Totok Raharjo, merupakan hal yang alamiah apabila warga yang tidak mengalami kemalangan memiliki peran manusiawi membantu sesamanya yang tengah dirundung bencana. Selain penderitaan, ternyata ada sisi lain yang menguat ketika terjadi bencana: solidaritas. Itu pula yang sepertinya ditunjukkan warga dan komunitas seniman di Nitiprayan. Mereka sudah pasti tidak boleh lupa pada inti kemanusiaan sebagai basis dari kehidupan berkesenian. Bahwa berkesenian tidak melulu bersikutat dengan teori-teori estetika, tetapi jauh lebih penting dari itu, membangun solidaritas dan terus-menerus menggalang rasa persaudaraan sebagai sesama hamba Tuhan…. Bukankah tugas penting seniman menggali sisi-sisi human tersebut?

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: