//
you're reading...
Arsip Media

Pendidikan Prasekolah Tak Harus Serba Mahal

DI tangan seorang saudagar, kesadaran yang tumbuh akan pentingnya pendidikan anak pada usia dini merupakan pasar empuk yang menjanjikan rupiah. Di tangan seorang ibu, pendidikan anak usia prasekolah menjadi keprihatinan yang menggerakkan. Pendidikan prasekolah yang bagus tidak harus dijejali dengan alat-alat permainan plastik dari pabrik, bahasa asing, multimedia, dan berbagai hal yang serba global.KESEDERHANAAN, lokalitas, dan persahabatan dengan lingkungan merupakan pilihan yang ditawarkan Sri Wahyaningsih dengan kelompok bermain Sanggar Anak Alam “Salam” di Kampung Nitiprayan di perbatasan Kabupaten Bantul dengan Kota Yogyakarta. Kelompok bermain berbasis komunitas yang diselenggarakan di ruang tamu rumah keluarga ini membalikkan logika bahwa pendidikan yang baik harus bergelimang fasilitas dan serba mahal.Tidak ada yang hebat-hebat di kelompok bermain Salam. Jalan menuju ruang depan yang dipergunakan sebagai sekolah hanyalah jalan setapak dari bambu. Di depan sekolah terhampar sawah milik penduduk. Ruang depan itu berdinding bata dengan kerangka rumah tradisional Jawa. Sebagian besar kegiatan dilakukan di lantai. Karpet digelar tiap kali kegiatan belajar akan dimulai. Meja kursi mini, sumbangan yang baru saja diterima hanya dipergunakan sebagai alat permainan kereta api atau untuk membuat panggung. Ada alat permainan edukatif sederhana, tetapi jumlahnya tidak banyak. Selebihnya adalah boneka-boneka dan mainan tua.KELOMPOK bermain itu belum genap beroperasi setahun. Menurut Wahya, ibu tiga anak, selama ini ruang tamu itu dipergunakan untuk perpustakaan dan pendampingan belajar bagi anak-anak. Kelompok bermain merupakan gagasan yang muncul kemudian. “Daripada anak-anak dibiarkan bermain sendiri, saya menawarkan bagaimana kalau anak-anak dikumpulkan agar bisa bermain lebih terarah,” kata Wahya.Saat dibuka, kelompok bermain itu diikuti 15 anak usia dua sampai empat tahun. Kini jumlah anak yang bergabung 27 orang. Mereka dibagi dalam dua kelas dan masuk tiga kali seminggu. Seorang anak yang diidentifikasi hiperaktif pernah bergabung di kelompok bermain itu. Anak tersebut ternyata berangsur-angsur bisa berinteraksi seperti anak normal tanpa terapi khusus. Andi (4), yang sejak kecil menutup mulut dan tidak mau berbicara, kini mulai percaya diri dan sesekali mencoba mengeluarkan sepatah dua patah kata.“Sejak sekolah di sini, anak saya mulai bicara sedikit demi sedikit,” kata Ningsih, ibunda Andi.Buku menjadi menu utama kegiatan belajar, sekalipun baca dan tulis tidak diajarkan. Dalam pertemuan selama dua jam anak-anak mendengarkan guru mendongeng dan membacakan buku cerita, menggambar, bermain, atau bernyanyi. Pada pertemuan ketiga, tiap Sabtu, kelas digabung dengan acara ke sawah dan berkebun. Inilah hari yang paling menyenangkan bagi anak, guru, maupun orangtua yang mendampingi anak-anaknya. Pemandangan yang mengesankan ketika anak-anak itu takjub saat mencabut tanaman kacang dan menemukan kacang tanah bergelantungan di bagian akar.Uang sekolahnya sukarela, rata-rata Rp 15.000 tiap bulan. Sangat kecil dibandingkan dengan bayaran yang diminta kelompok-kelompok bermain papan atas di Yogyakarta, yang memasang tarif Rp 250.000 per bulan. Wahya dan sejumlah sukarelawan mengajar tanpa memperoleh bayaran.Model pendidikan prasekolah yang alami itu dicari-cari, tetapi sekaligus juga mengundang kecemasan bagi sejumlah orangtua. Beberapa orangtua murid tidak sabar karena anak-anaknya tidak diajari baca tulis sehingga memindahkan anak mereka ke kelompok bermain lain. Akan tetapi, orangtua yang paham terhadap pendidikan anak balita justru berdatangan ke kelompok bermain Salam. Tidak heran bila saat ini separuh peserta kelompok bermain itu bukan dari komunitas Nitiprayan.Onny Soewasono (37) merasa lega bisa menemukan kelompok bermain yang lebih natural bagi anak ketiganya, Cipta Dewi (3). Onny, yang delapan tahun menjabat sebagai direktur sebuah lembaga pendidikan prasekolah kelas atas di Yogyakarta, merasa kecewa dengan pendidikan prasekolah yang cenderung komersial dan orientasinya hanya mempersiapkan anak untuk hal-hal yang serba modern dan global, dibebani dengan pelajaran bahasa asing, tetapi tidak mengenal identitas lokal. Anak seolah-olah dijadikan miniatur orang dewasa.“Ketika menemukan kelompok bermain Salam, saya seperti memperoleh atmosfer lain. Lebih alamiah, lebih memerhatikan aspek-aspek yang dilupakan oleh pendidikan prasekolah yang lain,” kata Onny, pemusik yang kini tengah mengembangkan lagu-lagu pendidikan untuk anak.PENDIDIKAN prasekolah berbasis komunitas merupakan alternatif untuk mengisi kekosongan pelayanan pendidikan anak usia dini di Tanah Air. Di Kabupaten Bingkat, ibu-ibu petani dan nelayan mendirikan dan mengelola TK dengan kekuatan sendiri. Guru diambil dari warga yang dimagangkan di TK yang sudah ada. Di Desa Mulyodadi, seorang warga berinisiatif menampung sekitar 70 anak prasekolah untuk belajar dan bermain bersama di emperan rumahnya. Di Banjarmasin seorang ibu menyelenggarakan pendidikan prasekolah di rumahnya dengan biaya yang sangat murah untuk anak-anak nelayan.Bila hanya mengandalkan proyek pemerintah, berapa tahun dan berapa negara harus berutang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak prasekolah?Berdasarkan data Departemen Pendidikan Nasional tahun 2004, baru sekitar 15,6 persen dari 11,5 juta anak usia 4-6 tahun yang bersekolah di taman kanak-kanak, sedangkan untuk anak usia 0-3 tahun baru 15,8 persen yang tersentuh pelayanan anak usia dini. Padahal, pendidikan anak usia dini sangat penting karena usia balita merupakan masa kritis untuk pengembangan kecerdasan. Penyelenggaraan pendidikan prasekolah ikut menjadi penentu keberhasilan wajib belajar pendidikan dasar.Departemen Pendidikan Nasional dalam beberapa tahun terakhir giat mengampanyekan pendidikan anak usia dini. Sejak tahun 1999 pemerintah melaksanakan program pendidikan anak usia dini dengan pinjaman Bank Dunia sebesar 21,5 juta dollar AS. Dana itu dialokasikan antara lain untuk pembangunan 340 gedung pusat pendidikan anak usia dini, pengadaan guru kontrak, dan pelatihan guru.Kelompok bermain Salam lagi-lagi mengingatkan bahwa pendidikan yang bermutu tidak harus serba glamor, serba mahal, dan dikelola secara komersial.“Informasi yang tidak jelas bahwa umur 0 sampai 6 tahun merupakan usia emas untuk kecerdasan anak kemudian ditangkap menjadi peluang bisnis. Padahal, belum tentu aktivitas mereka benar-benar didedikasikan untuk pendidikan,” kata Wahya. (P Bambang Wisudo) KOMPAS, 12 Mei 2005.

 

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: