//
you're reading...
Arsip Media

Pendidikan Inklusif Harus Terus Dikembangkan

 Yogyakarta, Kompas – Konsep pendidikan inklusif harus terus dikembangkan untuk memberikan pendidikan tanpa pengotak-ngotakan bagi keberagaman anak. Hingga kini baru ada 62 sekolah inklusif yang menggabungkan pendidikan untuk siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler.

Idealnya seluruh sekolah harus mampu menerapkan pendidikan inklusif tersebut. Namun, tiap sekolah masih menghadapi berbagai kendala untuk mewujudkan pendidikan inklusif.

“Perlu perubahan sikap stakeholder pendidikan untuk lebih menghargai keberagaman. Secara semangat, DIY sudah bisa menjadi acuan bagi daerah lain,” ujar Budi Hermawan dari Indonesian Institute for Child Right Advokasi dan Inclusion Study pada pembukaan Seminar, Lokakarya, dan Festival Pendidikan Anak Usia Dini Inklusif dengan tema “Belajar dari Perbedaan”, Sabtu (7/7).

Menurut Kepala Dinas Pendidikan DI Yogyakarta Sugito, pemerintah provinsi bertekad akan terus membantu terealisasinya pendidikan untuk semua terutama bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Saat ini mayoritas siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif adalah siswa tunanetra.

“Kami terus membantu mereka hingga ujian dengan menggunakan huruf braille. Beberapa guru juga sudah ditugasi membantu pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus. Meski sulit, beberapa anak tunanetra sudah bisa masuk SMK atau SMA,” kata Sugito.

Budi menegaskan, pendidikan inklusif bukan semata memasukkan anak luar biasa ke sekolah umum, namun lebih berorientasi bagaimana pelayanan pendidikan bisa memenuhi kebutuhan setiap anak dengan keberagaman dan keunikannya.

Penyelenggaraan pendidikan, menurut pengelola Sanggar Anak Alam Sri Wahyaningsih, harus tidak memandang perbedaan. Namun, kenyataannya masih banyak lembaga pendidikan yang mengotakkan diri dengan label sekolah unggulan atau sekolah plus.

Model pendidikan yang mengkhususkan siswa berkebutuhan khusus, lanjut Wahyaningsih, tidak efektif dan tidak manusiawi, terutama karena akan menyulitkan mereka saat kembali ke masyarakat dan membuat mereka merasa tersisihkan.

Terwujudnya pendidikan inklusif membutuhkan kesadaran bersama antara orangtua, masyarakat, dan penyelenggara sekolah. Pendidikan inklusif juga harus diterapkan sejak anak usia dini. “Sekolah umum harus membuka kesempatan bagi mereka. Pendidikan harus mampu mengasah kepekaan sosial peserta didik,” tutur Wahyaningsih. (WKM) (KOMPAS,  Juli 2007)

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: