//
you're reading...
Tentang SALAM

Proses Belajar di Sanggar Anak Alam Yogyakarta

eksperimen balon Bagaimana sekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan telah menjadi impian semua orang terutama anak-anak. Namun mewujudkannya tidaklah mudah. Banyak kendala , baik sumber daya manusianya maupun kurikulumnya.
Sanggar Anak Alam (SALAM) mencoba memfasilitasi anak-anak untuk dapat belajar dengan merdeka sesuai kodratnya sebagai anak. Dengan memanfaatkan alam sebagai media belajar. Anak-anak mulai mengenali lingkungannya dengan seksama. Mengamati kehidupan sepanjang “kalen” (sungai kecil), galengan (pematang sawah), sawah yang ada di lingkungan sekolah. Ada cethol, cebong, katak, cacing, keong, belalang, kupu-kupu,capung, laba-laba, kepik, semut, ulat, ular, marmut, ayam, kambing, sapi dan juga aneka tanaman seperti cabe, kangkung, bayam, kacang tanah, kacang panjang, kedelai, jagung, padi, berbagai macam tanaman obat dan tanaman hias.
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, yang mereka lakukan/ praktekkan. Mereka juga belajar untuk “niteni mangsa”(mencermati musim) apa yang biasa ditanam petani ketika tidak ada hujan dan ketika hujan, juga kehidupan yang ada di sekitar ketika kemarau dan musim hujan.
Belajar ”srawung” dengan masyarakat sekitar sekolah. Para petani di sawah, masyarakat dan juga para tamu yang berkunjung.Anak-anak belajar menyapa, bertanya, dan bergaul sehingga anak-anak tidak merasa asing dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Selain srawung dengan lingkungan sekitar anak-anak sejak dini juga srawung dengan pengetahuan melalui buku.

Gambaran Umum anak-anak Balita

Kebanyakan anak-anak usia balita selalu aktif, rasa ingin tahunya tinggi. Orang dewasa sering memberi julukan kepada anak-anak balita tersebut “ngglidik, criwis, ngeyel,”. Dan julukan tersebut sering berkonotasi negatif, sehingga orang dewasa selalu tidak sabar menghadapi anak-anak tersebut, jengkel marah dan cenderung melarang. Apabila kita memahami sifat dasar anak-anak tersebut, maka kita dapat menahan diri untuk melarang dan membiarkan anak-anak mengembangkan sifat dasarnya.
Kerelaan orang dewasa menerima dan memahami sifat dasar anak akan banyak menolong anak untuk mengembangkan dirinya. Anak-anak akan tumbuh menjadi anak yang merdeka dan punya rasa percaya diri. Ada keberanian untuk mencoba, melakukan sesuatu, menyelidik dan juga bertanya tentang apa saja yang ingin mereka ketahui.
Penting bagi kita orang dewasa, menyediakan “ruang” yang merdeka bagi anak sehingga muncul potensi anak-anak secara optimal. Ajak bicara dan hargai pendapatnya. Apabila kita melarang atau tidak menuruti kemauannya, kita harus mempunyai argumentasi yang kuat. Anak-anak sering kali “ngeyel” dan ini sering dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Padahal kalau kita jujur, “ngeyel” adalah modal awal anak bersikap kritis dan tidak mudah dipengaruhi orang lain. Orang dewasa seringkali sulit melepaskan otoritasnya, merasa apa yang dipikirkan selalu benar dan harus dituruti. Sikap mau memang sendiri dan gengsi kalau kemauannya tidak dituruti oleh anak inilah yang biasanya jadi biang masalah yang menimbulkan rasa jengkel, tidak suka dan mudah memberi cap “nakal”. Sekali lagi yang diperlukan anak adalah: diterima keberadaannya, ditemani, dihargai pendapatnya. Hindari kata-kata larangan, biarkan anak-anak mencoba, tetapi tetap dengan pengawasan sehingga anak-anak punya pengalaman dengan apa yang dilakukan.
Ngglidhig adalah tindakan yang didorong oleh rasa ingin tahu, ingin mencoba, ingin mengeksplor, sayang sekali kalau tindakan seperti ini dimatikan dengan larangan-larangan. Anak-anak yang duduk diam saja justru perlu dicurigai jangan-jangan anak tersebut sakit, minder, takut dan tidak berani berkreasi. Anak yang sehat selalu tampak aktif, dan masing-masing anak berbeda karena minat mereka tidak sama, sehingga tidak perlu kita menyeragamkan semua anak. Masing-masing anak juga punya cara belajar yang berbeda-beda oleh karena itu sebagai orang dewasa kita perlu memahami karakter tiap anak.

Guru/ Pamong

Tugas utama anak-anak adalah bermain. Karena bermain bagi anak sesungguhnya adalah belajar. Memberi kesempatan bermain bagi anak hakekatnya sama dengan memberi kesempatan bagi orang dewasa untuk bekerja. Bermain yang alamiah, tidak direkayasa, sesuai dengan sifat kodrati anak yang selalu banyak gerak, gembira, ceria, penuh tawa,dan pemaaf. Tugas orang dewasa adalah bagaimana memberi ruang pada anak-anak tersebut untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada dengan suasana sukacita, sehingga anak-anak mempunyai kemerdekaan untuk berkembang.
Ada dua syarat bagi orang dewasa yang berperan sebagai guru/ pamong bagi anak-anak:
Syarat pertama, untuk memerdekakan anak adalah menerima dan memahami sifat kodrati anak tersebut, sehingga tidak mudah memberi stempel “nakal” pada anak-anak yang aktif. Hal ini penting supaya tidak timbul rasa jengkel dalam hati kita karena sikap ini akan mempengaruhi perlakuan kita pada proses belajar anak-anak. Dalam istilah Ki Hajar Dewantara guru disebut pamong, orang yang mau mengabdikan diri pada anak, orang yang mau memberi hati untuk anak. Oleh karena itu, sebagai guru atau pamong, pintar saja tidak cukup! dia harus memiliki rasa cinta, perhatian pada anak-anak.
Syarat kedua, memegang teguh prinsip pendidikan yang bertumpu pada anak. Guru berperan sebagai fasilitator atau pamong. Dalam istilah Ki Hajar Dewantara “Tut Wuri Handayani”. Guru berperan memberi penguatan dikala anak-anak membutuhkan. Sehingga dalam proses memerdekaan, guru tidak boleh membiarkan anak-anak tanpa pengawasan. Karena peran guru justru pada menemani anak-anak berproses, sehingga tahu apa yang mereka butuhkan. Memerdekakan harus dibedakan dengan membebaskan tanpa batas dan pengawasan yang cenderung cuek.

Kurikulum

Kurikulum yang kami susun bukan merupakan “harga mati” tetapi garis besar/pedoman dalam menemani anak-anak berproses dalam menuntaskan masa tumbuh kembangnya.

Metode yang digunakan :

Titen dari kata “niteni” (Bhs Jawa) mencermati dan mencatat peristiwa yang terjadi.
Sejak dini anak diajak untuk “niteni mangsa” (mencermati musim), mencatat peristiwa yang terjadi disekitarnya. Kapan petani menanam padi, kapan menanam palawija (jagung, kacang dll), kapan hewan-hewan seperti : laron, cacing, kupu, belut mulai banyak keluar.
Penjelajahan melalui pengamatan kehidupan di sekitar galengan atau pemantang sawah merupakan salah satu alat belajar anak untuk berlatih keseimbangan tubuh. Selain itu mereka juga sekaligus melihat dengan cermat kehidupan yang ada di sekitarnya. Penjelajahan ini juga melatih kepedulian anak-anak dengan apa yang ada di sekitarnya.
Dalam mengembangkan rasa ingin tahu anak sebagai awal dari penelitian. Guru atau pamong harus jeli dalam menemani anak-anak berproses, bermain sambil belajar. Masing-masing anak tentu minatnya tidak sama. Perbedaan minat itu justru dapat dimanfaatkan sebagai media untuk saling memperkaya.
Ketika belajar tanam-menanam, anak-anak tidak hanya mengamati tetapi juga terlibat mulai dari penyiapan lahan, menanam sampai panen. Bahkan ada beberapa kegiatan pengolahan hasil panen, seperti membuat susu kedelai, pop corn, sayur dan aneka kue.
Proses pengolahan masakan digunakan sebagai dasar untuk belajar kimia, fisika, biologi, matematika secara sederhana, agar dikelak kemudian hari bidang ilmu tersebut ini tidak menjadi momok bagi anak-anak. Mereka belajar dengan senang karena hasilnya dapat dinikmati, proses perubahan bahan masakan dapat diketahui dan dimanfaatkan langsung, bukan hanya teori. Hal ini penting bagi anak-anak sebagai daya tarik untuk belajar lebih jauh.
Selain membaca alam, anak-anak juga diajak untuk menjelajah lewat buku-buku, baik fiksi maupun non fiksi. Banyak pengetahuan dapat diperoleh dengan membaca, sekalipun anak-anak belum dapat membaca. Tugas guru membacakan dengan cara yang menarik sehingga anak-anak memperhatikan dan muncul keinginan untuk belajar lebih jauh. Cara ini sekaligus untuk merangsang anak senang membaca sejak dini.
Pada awalnya mereka membaca gambar, niteni gambar seperti ini ceritanya demikian, dan dengan daya imajinasi masing-masing anak dapat berimprovisasi. Kebiasaan ini telah membuat anak-anak cinta buku. Setiap pulang sekolah mereka meminjam buku dan mereka selalu minta tolong pada orang tua mereka untuk membacakan di rumah. Komunikasi anak dan orangtua dapat terjalin, anak-anak tidak lagi tergantung pada televisi. Selain untuk menjalin komunikasi antara anak dan orangtua atau anggota keluarga lainnya, mereka juga bersama-sama belajar menambah wawasan melalui buku. Kegiatan ini berlanjut dengan anak-anak diberi kesempatan menceritakan apa yang sudah dibaca kepada teman-teman melalui cerita di depan kelas. Sampai di sekolah tidak jarang anak-anak berebut ingin bercerita tentang apa yang telah dibacanya. Dengan demikian anak-anak juga berlatih mengingat dan mengkomunikasikan ilmunya kepada orang lain (belajar berkomunikasi), berani mengungkapkan pendapat, menambah kosakata dan wawasan mereka. Disini proses pertukaran ilmu pengetahuan telah terjadi tanpa dipaksakan, anak belajar dengan anak, saling cerita dengan bahasa dan keceriaan mereka.

Bersosialisasi.

Sebagian besar anak-anak yang belajar di SALAM berasal dari keluarga kecil dan kebanyakan juga anak pertama. Perlakuan hampir semua orangtua terhadap anak pertama biasanya over protektif dan cenderung menuruti apa yang menjadi keinginannya. Anak biasa menjadi “raja” di rumah sendiri tidak ada kebiasaan berbagi karena memang sendiri.
Awal memasuki sekolah ada suasana lain, segala sesuatunya tidak mungkin dipakai sendiri, banyak teman dan tidak mungkin semua fasilitas yang ada di sekolah dipakai sendiri. Disini anak mulai belajar berbagi, mulai berteman, mulai kerja sama, mulai antri menunggu giliran untuk memakai fasilitas yang ada.
Tidak mudah menanamkan kebersamaan pada anak-anak yang secara psikologis(usia 2-6 Th) mereka sedang memasuki tahapan kemratu-ratu, egoisnya masih tinggi. Tetapi hal ini harus terus dicoba, dengan berbagai cara dan kesabaran serta kasih sayang dari guru. Berbagai cara untuk melatih kerjasama antara lain dengan: melakukan kegiatan bersama dengan pembagian tugas yang jelas, permainan yang menumbuhkan kerjasama, bercerita, menari, berbagi makanan yang ada, membereskan mainan, dan sebagainya.

Menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan

Setiap hari anak-anak membawa sampah organik (sampah dapur, sisa makanan dan sampah yang berasal dari tumbuhan) untuk ditempatkan di genthong-genthong khusus yang telah disiapkan di sekolah untuk membuat kompos. Tiap hari anak-anak mengamati perubahan yang terjadi.
Setelah jadi pupuk kompos, lalu dipakai untuk menanam. Anak-anak diberi pengertian, bahwa kompos tersebut menjadi makanan bergizi bagi tumbuh-tumbuhan. Mereka juga mengamati bahwa plastik tidak dapat menjadi pupuk dan menghambat tanaman untuk mencari makan, oleh karena itu membuang plastik sembarangan akan merusak lingkungan.
Anak-anak juga mulai dikenalkan dengan berbagai tanaman obat yang dapat mereka gunakan secara langsung misalnya lidah buaya (aloe vera) dan binahong yang sangat mujarab untuk menyembuhkan luka-luka terutama luka baru.
Pengolahan sampah seperti membuat kertas daur ulang dan kompos yang dilakukan, selain untuk melatih motorik halus, anak-anak juga mendapatkan pengetahuan dari proses yang terjadi.
Program ini dimaksudkan untuk menanamkan sejak dini pemahamam bahwa bumi harus dipelihara kelestariannya, harus ada perlakuan yang benar untuk menjaga kelestariannya. Bagaimana mengupayakan udara yang bersih melalui menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan, tidak kencing sembarangan. Budaya menanam, cinta terhadap tumbuh-tumbuhan ,hewan dan keindahan perlu dikenalkan sejak dini, karena hal ini dapat menumbuhkan jiwa yang harmonis pada anak-anak yang akan banyak menolong untuk perkembangan berikutnya.

Makanan

Kelihatannya sederhana namun dampak dari makanan ini baik yang positif maupun yang negatif sangat luar biasa. Tak kenal maka tak sayang. Lidah anak-anak perlu dibiasakan menikmati aneka rasa agar mereka dapat menikmati berbagai makanan. Tentunya kita harus selektif. Selain bersih tentu harus makanan yang bergizi. Sekarang ini banyak makanan yang menarik perhatian dan selera anak yang dijajakan baik melalui televisi maupun toko-toko. Meski menarik, belum tentu makanan tersebut sehat untuk dikonsumsi. Iklan ditelevisi yang sangat gencar dan menarik menjadi tantangan bagi orang tua untuk memberi pengertian pada anak tentang makanan mana yang sungguh-sungguh sehat dikonsumsi dan mana yang perlu diwaspadai.
SALAM mencoba mengenalkan aneka makanan olahan sendiri dari bahan yang sederhana yang mudah didapat disekitar kita. Ternyata anak-anak sangat menyukainya. Tidak jarang anak-anak dilibatkan juga dalam proses memasak dan menyiapkannya. Selain mereka suka, mereka juga bangga dapat menghasilkan sesuatu, tak jarang mereka membawa pulang untuk oleh-oleh orangtua dan saudara-saudaranya.
Menyajikan makanan tambahan pada anak-anak setiap hari, disamping memenuhi kebutuhan makan bagi mereka karena kegiatan belajar sampai jam 11.30 WIB sekaligus digunakan untuk media belajar. Misalnya ketika membuat donat, anak-anak mengenal nama bahan-bahannya, lalu mencampur dan nguleni. Proses ini digunakan untuk latihan motorik kasar anak. Ketika mereka membentuk donat, mereka berkreasi sesuai dengan imajinasinya. Saat menggoreng, anak-anak mengetahui proses pengolahan dari yang mentah menjadi matang, ada perubahan warna setelah terjadi proses pemanasan akibat digoreng dan seterusnya.
Aneka makanan dari bahan ketela, atau umbi-umbian yang sangat banyak ragamnya dan yang banyak orang sudah tidak mengenal, kita coba kenalkan misalnya : emping garut, bubur garut, thiwul, gathot, grontol, sawut. Perlahan-lahan anak-anak jadi menyukai. Di kelak kemudian kita berharap anak-anak yang telah tumbuh dewasa akan menghargai aneka makanan yang dapat dihasilkan sendiri, produk dalam negeri, mereka akan bangga dan berupaya melestarikan harta kekayaan negeri tercinta. Kita dapat menentukan selera sendiri ditengah-tengah gencarnya pasar bebas yang menawarkan aneka kemudahan-kemudahan dan gengsi, yang jika tidak diwaspadai dapat merusak kepribadian bangsa sendiri. Menawarkan makanan tidak semata-mata menawarkan makanan itu sendiri tetapi juga menawarkan gengsi dan harga diri yang semu. Tanpa sadar lambat laun harga diri dan selera kita ditentukan oleh pasar. Ini merupakan ancaman yang serius bagi bangsa, apabila sampai anak-anak kita tidak lagi punya kebanggaan terhadap produk sendiri. Latihan dan membiasakan anak-anak menikmati hidangan produk sendiri menjadi sesuatu yang penting dalam proses pembelajaran di SALAM.

Seni dan Budaya

Anak-anak juga dikenalkan dengan peristiwa budaya yakni mengenal ritual-ritual kerakyatan yang telah dimiliki masyarakat sejak nenek moyang dulu.
Ritual apa yang dilakukan petani pada waktu mau menanam dan menjelang panen. Mengapa hal tersebut dilakukan. Perangkat apa saja yang diperlukan dalam upacara tersebut dan apa maknanya. Kenapa dalam upacara wiwit ada berbagai macam sesaji. Itu semua harus menjadi bahan kajian bersama, mengingat banyak lambang atau sanepa yang digunakan oleh nenek moyang kita dalam menyampaikan ilmunya kepada anak cucunya. Ditambah lagi dengan belum adanya budaya tulis, sehingga ilmu-ilmu itu disampaikan dalam bahasa tutur. Oleh karena itu sudah saatnya kita memulai mengkaji kembali dan menuliskan, meneliti lebih jauh nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa, petuah-petuah nenek moyang kita. Sehingga tidak mudah bagi kita untuk memvonis bahwa peristiwa budaya tersebut adalah takhayul. Untuk anak-anak balita paling tidak mereka diikutkan dalam peristiwa budaya setempat, sehingga tercatat dalam memori mereka.
Selain peristiwa budaya, anak-anak sejak dini juga dikenalkan dengan irama dan keindahan melalui menyanyi, menari, musik dan menggambar. Yang kita nilai bukan hasilnya karena tidak semua anak mempunyai bakat seni, namun proses berkesenian ini penting untuk mengenalkan anak pada irama, keharmonisan, sensitivitas pada diri anak sehingga mereka mempunyai kepekaan dalam dirinya.(*) Sri Wahyaningsih©SALAM JOGJA

About salamjogja

Sanggar Anak Alam Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ID Sanggar Anak Alam adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Didirikan pertama kali tahun 1988 di desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: 1. Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. 2. Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. 3. Perpustakaan anak 4. Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. 5. Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Diskusi

2 thoughts on “Proses Belajar di Sanggar Anak Alam Yogyakarta

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Posted by Mr WordPress | Juli 14, 2007, 2:07 am
  2. ini info yang sangat bermanfaan terutama bagi oarang tua yang menginginkan anaknya agar lebih berkembang
    Terima Kasih

    Posted by atha lakuary | Oktober 31, 2009, 4:33 am

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: